Open top menu
Senin, 02 Juli 2018
no image




KETULUSAN SEORANG TEMAN

Disuatu sekolah yang dimana sekolah itu adalah sekolah favorit yang hampir semua murid-muridnya mempunyai ekonomi yang cukup.
Ada salah seorang murid yang bernama Nadya, dia dari kalangan keluarga yang sangat terpandang. Dan hampir semua murid kenal dan berteman dengannya. Dia terkenal sangat royal ketika saat sedang bersama teman-temannya karena merasa gengsi. Pada suatu hari ketika ia pergi ke kantin dengan teman-temannya ada salah satu murid yang menghampirinya. Dia bernama Farras, senyumannya yang manis dan sapaan hangat yang ia berikan kepada Nadya, namun apa yang terjadi
“Farras : Selamat pagi Nadya” ( dengan penuh senyuman ketulusan dia menyapa)
Nadya pun menjawab dengan nada yang sedikit ketus
“Nadya : Iya, ada apa ? Maaf ya aku gak mau temenan sama kamu” ( dengan mimik muka yang judes).
Farras adalah seorang murid yang sangat baik , rajin dan patuh. Dia bersekolah di sekolah ini bukan karena keluarganya yang punya tetapi dia bisa bersekolah disitu dikarenakan dia mendapatkan beasiswa karena kecerdasannya.
Ketika nadya menjawab seperti itu, farras pun hanya bisa terdiam dan tersenyum saja. Lalu ia pun pergi tidak menghiraukan farras
Treng... treng... treng....
Bel sekolah pun berbunyi, menandakan murid-murid sudah waktunya pulang.
Ada suatu kejadian ketika itu, saat berjalan nadya terjatuh temen-temannya bukan menolongnya tetapi malah mentertawakan, nadya pun terdiam menahan malu tanpa menghiraukan rasa sakitnya.
Kemudian farras pada saat itu melihat kejadian tersebut dan langsung menghampirinya.
“ Farras : Nad, ayok bangun ??? Kamu tidak apa-apa ?”
Bukannya menyambut tangan farras tetapi nadya malah menghempaskan tangan farras, karena farras bukan teman dari kalangan dia.
“Nadya : Awas kamu... aku tidak butuh bantuan kamu farras !!!” (dengan nada sangat tinggi)
Nadya pun bangun kemudian pergi.
Sesampainya Nadya berada dirumah , tiba-tiba nadya mendapatkan kabar yang tidak menyenangkan. Ternyata keluarganya mendapatkan musibah bahwa perusahaan yang dimiliki orang tuanya memiliki kebangkrutan dan semuanya di sita oleh pihak bank untuk membayar hutang-hutang yang belum terbayar.
Sekarang keluarga Nadya pun sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Akan tetapi disisi lain, nadya tidak ingin orang lain tahu apalagi teman-temannya bahwa dia sekarang tidak mempunyai apa-apa lagi.
Keesokan harinya, saat nadya berada di sekolah ia melihat teman-temannya sedang berkumpul seperti membicarakan sesuatu. Lalu ia menghampiri teman-temannya
“ Nadya : Hai teman-teman selamat pagi... apa kabar semuanya ??” ( sapa Nadya )
Namun teman-temannya malah menjauh dan ada salah seorang temannya yang ketus
“Lia dan teman-teman: ih apaan sih nad , kita gak mau temenan lagi sama kamu secara kan kamu sudah tidak kaya lagi ?”
Sontak nadya pun terkejut “ Bagaimana mereka bisa tahu kalo keadaanku sekarang seperti ini”. ( dengan muka sedih dan kaget )
Pada saat itu pula teman-teman yang sangat dekat dengan dia pun menjauhi satu persatu-satu.
Tiba-tiba teman yang selam ini dia kucilkan datang menghampiri
“ Farras : Kamu kenapa nad? Apa yang sedang terjadi ? “
Lalu nadya pun menjawab
“ Nadya : Kamu kenapa masih mau datang menemuiki? Sedangkan yang lain pun menjauhi? Lagi pula aku pun sering membencimu dan memakimu ?”
“Farras : Memangnya kenapa ? apa nggak boleh ? aku hanya bertanya saja nad, jika ada yang bisa aku bantu aku siap membantumu ?”
Nadya pun sontak meneteskan air mata, lalu ia menceritakan masalahnya kepada farras yang terjadi pada ia dan keluarganya. Farras pun memeluk nadya sambil berkata “ Sabar ya Nad, mungkin ini cobaan yang diberikan tuhan kepadamu dan keluargamu”.
Lalu, nadya pun menyadari ternyata teman yang selam ini yang , dekat dengannya bukan karena ketulusannya melainkan karena dari sisi materi.  Tetapi teman yang selam ini ia kucilkan malah ada di saat nadya sedang terpuruk.
Nadya pun meminta maaf kepada farras karena sikap dan sifat nadya yang buruk selama ini. Dan pada akhirnya yang tadinya ia benci dan ia kucilakan malah menjadi teman dekatnya.
















Read more